Thursday, 5 May 2016

Terima Kasih Sudah Selingkuh

Warning: Ini postingan panjang, silakan di-skip.

Bertahun-tahun terikat dalam hubungan yang cukup steady (walau tanpa arah dan tujuan yang jelas) bikin kita terikat secara emosional sama pasangan kita. Apalagi kalau hubungan itu memakan sampai sepertiga dari umur kita selama hidup. Untuk sebagian orang malah mungkin sudah terikat secara kekeluargaan dan finansial.

Ketika pada akhirnya saya mengetahui pasangan saya selingkuh, saya langsung saja minta dia pergi dan meninggalkan saya tanpa pikir panjang. Waktu awal-awal sih, memang ada penyesalan. Saya sempat mikir mungkin sebetulnya saya masih bisa memperjuangkan hubungan ini. Tapi 2-3 bulan tetap berhubungan dengan mantan pasangan saya, ternyata hanya diisi pertengkaran karena cemburu dan saya sibuk disalah-salahin. Entah gimana logikanya bisa jadi seperti itu, dia yang selingkuh tapi saya yang salah.

Pada masa itu saya sendiri jadi kayak orang linglung; nggak bisa makan, nggak bisa tidur, nggak bisa kerja, nggak bisa berhenti nangis, nggak bisa nolak ajakan mabuk-mabukkan, pokoknya in general saya tersesat dan nggak bisa ngapa-ngapain. Saya terus-terusan self loathing (which is masih kebawa sampe sekarang), menangis, berat badan turun terus menerus (masih sampai sekarang walau penurunannya nggak sedrastis 2 bulan pertama), dan secara konstan merasa kesepian dan bingung mau ngapain.

Tujuh tahun itu bukan waktu yang sedikit. Saya biasanya punya seseorang yang bisa dikontak 24 jam, seseorang yang bisa nemenin saya nangis, yang bisa jadi tempat curhat bahkan curhatan yang paling aneh dan gak penting. Punya seseorang yang bisa membuat saya merasa cantik, merasa spesial dan berharga. Seseorang yang bisa saya ajak diskusi untuk membuat keputusan-keputusan besar dalam hidup saya, orang yang bisa ngingetin saya untuk nggak menghabiskan uang membeli barang-barang nggak penting, bahkan juga bisa jadi tempat ngutang tanpa bunga dan bisa bayar kapanpun, nyicil maupun cash. Ketika orang itu hilang, yang terasa paling pertama itu ya kesepian, denial, dan marah.

Padahal, sebetulnya hubungan saya dengan dia bisa dikatakan hubungan yang nggak ada kejelasan karena perkara beda agama dan nyangkut restu orang tua. Berkali-kali saya juga mencoba mengakhiri hubungan itu dengan baik-baik, tapi saya selalu ditahan (tapi sianjing… udah dia yang nahan, dia juga yang diem-diem nyari cewek lain di belakang gue). Selain itu, dia juga nggak punya ketegasan dan keberanian, dan (saya baru sadar belakangan) dia tidak bisa memimpin saya.

Waktu baru mengetahui soal selingkuh-selingkuhan ini, ya, saya berantakan banget lah. Berkali-kali mikir “Kok bisa?”, “Kenapa?”, “Kok tega-teganya?”. Saya bahkan nggak tahu gimana cara melanjutkan hidup tanpa dia, bener-bener nggak tahu.

Tapi semakin ke sini, entah kenapa semuanya terasa baik dan benar.

Jujur aja sih, bukan dia saja cowok yang pernah selingkuh dari saya (can’t help it, entah kenapa lebih mudah suka sama cowok bajingan). Tapi buat saya, ninggalin mereka selalu mudah. Waktu mergokkin mantan pacar saya yang sebelum-sebelumnya selingkuh, biasanya yang saya lakukan ya… ninggalin gitu aja tanpa kata putus. Tauk-tauk udah aja saya diemin, trus saya pacaran lagi. Sedih ya sedih. Saking sedihnya sampe males ngebahas dan milih untuk move on. Saya mikirnya, ya kalau sudah selingkuh, ngapain juga saya pungut lagi? Biarin aja deh, sampah cocoknya sama tong sampah kan.

Tapi kalau untuk hubungan selama 7 tahun, ya berat banget. Saya cuma bisa nyalahin diri saya (ya kalau gini sih emang wajar dia juga jadi sibuk nyalahin gue). Butuh waktu berbulan-bulan untuk saya sadar, ya memang harus begini ceritanya. Saya malah terima kasih dia sudah selingkuh. Ini mungkin solusi terbaik buat hubungan kita berdua.

Kenapa?



1. Dengan dia selingkuh, jadi lebih mudah untuk saya membenci dia. Jika kita berdua putus baik-baik, kemungkinan kita berdua akan sama-sama belum move on sampai detik ini.



2. Dia selingkuh, maka dia bajingan. Itu sudah cukup sebagai alasan untuk saya, bahwa nggak ada lagi yang bisa diperjuangkan, bahwa dia nggak layak diperjuangkan. Semua perasaan sayang saya, hilang dengan mudah. Ya nggak mudah, sih. Butuh waktu berbulan-bulan. Tapi seenggaknya, saat perasaan itu hilang, maka hilang sepenuhnya. Nggak bersisa.



3. Saya jadi kurus. Wahahahaha. Ini penting, sodara-sodari. Kemarin tuh saya gendut bener, sampai dijadiin bahan becandaan terus sama teman-teman saya. Sekarang tiap ketemu temen lama, semuanya pada kaget ngeliat saya sekurus ini. Ya sebenernya masih gendut juga, tapi nggak segendut beberapa bulan lalu.



4. Termotivasi untuk memperbaiki diri. Iya banget. Melihat selingkuhan mantan jauh lebih cantik dari saya, saya jadi lebih memperhatikan diri. Mulai berhenti beli kaus biasa, ganti jadi beli rok, kemeja, cardigan, dll. Yang biasanya cuma ke salon buat potong rambut, mulai kenal creambath, pedicure manicure, bahkan sampai mulai pakai lipstik tiap ngantor. Berhenti pakai sendal jepit ke kantor, mulai merhatiin pakaian yang saya pakai. Ini baik buat saya, karena sekarang nggak ada lagi yang ngatain saya gembel.



5. Saya jadi sadar, kalau saya deserve better. Saya sadar kalau saya seharusnya bersama dengan seseorang yang lebih baik. Yang menghargai saya, yang nggak suka bohong, yang nggak seenaknya ninggalin saya. Standar cowok idaman jadi naik sedikit, yang tadinya “Asal sayang sama aku.”, mulai mikir dia juga harus memiliki beberapa kriteria tertentu. Salah satunya yang paling utama; seiman. Karena saya belajar, sebaik apapun cowok, kalau udah beda agama, pasti ujungnya ribet. Saya kapok sekapok-kapoknya.



6. Saya nggak akan pernah menyesali keputusan saya untuk mundur dan pergi. Mungkin saja untuk dia, akan ada titik di mana dia nyesel dan mikir, “Did I choose the wrong girl?”, karena bukan saya yang fucked up. Kalau saya memang cewek yang tidak layak dijadikan pasangan, nggak mungkin dia mempertahankan saya selama 7 tahun padahal dia tahu saya nggak akan pernah mau pindah agama dan hubungan kami susah dibawa ke depan. Sementara saya, seberapapun berharganya 7 tahun yang saya miliki dengan dia, in the end dia fucked up. Dia merusak semua itu. Semua hal baik yang pernah terjadi di antara kita berdua, sudah hilang, jadi sampah, karena dirusak dengan perselingkuhan. Dari situ saya sadar, seberapa egoisnya dia. Dan saya bersyukur, apa jadinya jika saya menikah dengan pria macam ini?



7. Lebih waspada. Oh pasti. Bukan berarti 100% waspada. Toh saya akhirnya memulai hubungan dengan cowok yang salah lagi. Tapi gini… lelaki yang datang kemudian ini, walau dia juga akhirnya brengsek, tapi dia yang paling mending dibandingkan dengan cowok-cowok yang deketin saya sebelum dia. Ya nggak semuanya. Ada lah yang lebih baik dari dia, tapi sayangnya ayam sayur😐 Saya udah nggak mau lagi sama cowok-cowok peragu, atau yang ngarep dikejar. Hal-hal yang kayak gitu udah lewat masanya buat saya. It’s either you want me or go the fuck out of here. Nggak bisa tuh, suka-tapi-gimana-ya-liat-ntar-deh. Buat saya dadah babay kalau yang kayak gitu. Saya udah buang-buang waktu 7 tahun dengan cowok yang salah, menurut ngana saya masih mau buang-buang waktu untuk orang yang nggak layak diperjuangkan?



8. Saya belajar mandiri. Ya belum sepenuhnya mandiri. Manja mah udah bawaan orok, nggak bisa diapa-apain lagi. Tapi seenggaknya saya nggak semanja dulu. Saya belajar memutuskan sesuatu untuk diri saya sendiri (ya walau kadang masih nyari temen buat minta pertimbangan), kesana kemari sendirian, ngelakuin ini itu sendirian. Berat, sih, berat banget. Tapi pelan-pelan dibiasain.



9. Belajar acceptance. Ketika shit happens, saya belajar nggak nyalahin situasi ataupun orang lain. Saya belajar introspeksi dan belajar nerima keadaan. Saya belajar kalau saya nggak bisa ngatur perasaan orang lain, atau gimana cara orang lain memperlakukan saya. Kalau saya nggak suka, saya pergi. Nggak ada yang perlu dipaksa. Saya nggak perlu maksa orang lain suka atau sayang sama saya. Ya kalau seseorang benci saya, atau orang yang saya sayang tidak memiliki perasaan yang sama, ya sudah. Mau ngapain lagi?



10. Me time and freedom. Privilege yang susah saya miliki. Dulu, kalau mau jalan kemana, ikut mau dia. Saya jarang bisa pergi ke acara dan tempat yang saya mau. Pertama karena dia males nemenin, kedua karena dia selalu lebih senang ngajak saya ke mall. Padahal saya nggak suka ke mall. Tapi dulu saya nurut aja karena saya senang dekat dengan dia. Despite saya bosen, muak, eneg sama mall, tapi selama bersama dia, saya senang-senang saja. Tapi saya juga sadar, betapa banyak event maupun tempat seru yang saya lewatkan demi dia, dan sedikit banyak ya saya nyesel. Sekarang, saya bisa keluar malam pulang subuh, main bersama teman-teman saya yang kemungkinan nggak akan dia sukai, pergi ke event atau tempat yang saya inginkan saat weekend. Kalau sekarang saya masih sama dia, mungkin saya nggak akan bisa bergabung dengan Komunitas Taman Suropati, jalan-jalan ke Jogja sampe 3 kali dalam setahun, bertemu dengan berbagai macam orang,… gimanapun, akhirnya saya bisa ngerasain ngelakuin hanya hal-hal yang saya suka, pergi ke tempat yang saya suka, main ke sana ke mari, atau sekedar duduk di kafe sendirian tanpa ada yang ganggu.



Saya nggak bilang kalau efek jelek dari tragedi (tsah tragediiiii) perselingkuhan itu udah nggak ada lagi dalam diri saya. Oh, beberapa hal akan membekas dan mungkin butuh waktu lebih lama untuk sembuh. Tapi semua kan memang butuh proses. Dan disamping efek negatifnya, seperti saya bilang di atas, banyak juga sisi positif dari kejadian ini. Yang penting, akhirnya saya nggak terjebak dalam hubungan yang tanpa kepastian, saya akhirnya selesai ditindas.

Jadi… tentu saja, terima kasih sudah selingkuh. Walau awalnya berat, tapi pada akhirnya semua terasa lebih mudah dan masuk akal walaupun perjalanan ke situ masih panjang. Selingkuh mungkin memang bukan closure terbaik, tapi mungkin yang paling efektif agar saya melupakan dia. Rasanya menyenangkan melihat masa lalu dengan cara “Akhirnya selesai juga.”, daripada “Bagaimana kalau ternyata saya salah membuat keputusan?”.

Terima kasih, Kamu:)

Previous
Next Post »